“Kalau ngidam tidak dituruti, nanti anaknya ngences, lho!” Pernah dengar kalimat ini? Bagi banyak ibu hamil, ngidam—keinginan mendadak dan kuat untuk makan sesuatu yang spesifik—sering kali dipandang sebagai “wajib dipenuhi.” Tapi sebenarnya, ngidam itu apa sih? Apa hanya ada di indonesia saja? Lalu, apakah ada penjelasan ilmiahnya? Dan benarkah jika ngidam ibu tidak terpenuhi, bayi akan menjadi ngences?
Ngidam, atau keinginan kuat yang dialami ibu hamil untuk mengonsumsi makanan atau melakukan hal tertentu, adalah fenomena yang dikenal luas. Di Indonesia, kepercayaan akan ngidam sering kali memiliki makna simbolis, bahkan diyakini bisa mempengaruhi kondisi bayi. Namun, apakah kepercayaan ini hanya ada di Indonesia? Ternyata, ngidam adalah fenomena yang diakui di berbagai belahan dunia, meskipun dengan variasi kepercayaan dan penjelasannya.
Kepercayaan tentang Ngidam di Berbagai Negara
- Amerika Serikat dan Eropa
Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Eropa, ngidam sering kali dianggap sebagai bagian wajar dari pengalaman hamil. Ngidam makanan tertentu, seperti es krim, acar, atau makanan manis, sudah menjadi bagian dari cerita kehamilan di sana. Namun, kepercayaan bahwa ngidam yang tidak terpenuhi bisa berakibat pada bayi tidak begitu kuat seperti di beberapa budaya Asia atau Amerika Latin. - Tiongkok
Di Tiongkok, kepercayaan tentang ngidam lebih terfokus pada pemenuhan kebutuhan emosional ibu hamil. Diyakini bahwa jika ibu hamil tidak mendapatkan makanan atau hal-hal yang ia inginkan, maka bayi dapat terpengaruh secara emosional atau fisik. Bahkan, ada kepercayaan bahwa tanda lahir pada bayi adalah “jejak” dari ngidam yang tidak terpenuhi. - India
Di India, fenomena ngidam disebut “wish cravings” dan diyakini bahwa jika ngidam ibu hamil tidak terpenuhi, bayi dapat terlahir dengan tanda lahir tertentu atau karakteristik khusus. Misalnya, jika seorang ibu hamil tidak bisa makan makanan manis yang ia idamkan, ada kepercayaan bahwa anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang kurang manis atau kurang menyenangkan. - Meksiko
Di Meksiko, ngidam disebut “antojos” dan dianggap sangat penting untuk dipenuhi selama kehamilan. Tidak memenuhi ngidam seorang ibu hamil diyakini dapat menyebabkan bayi memiliki tanda lahir yang berhubungan dengan makanan atau hal yang diidamkan, misalnya tanda berbentuk buah tertentu. - Italia
Di Italia, kepercayaan serupa juga ada. Ngidam, atau “voglie,” dianggap sebagai sesuatu yang harus dipenuhi untuk menghindari tanda lahir pada bayi. Oleh sebab itu, ibu hamil didorong untuk memenuhi keinginan mereka akan makanan atau minuman tertentu agar bayi lahir sehat dan tanpa tanda lahir.
Penjelasan Ilmiah di Balik Ngidam
Fenomena ngidam sebenarnya telah diteliti secara ilmiah, meskipun belum ada kesepakatan yang benar-benar pasti tentang penyebabnya. Beberapa teori berikut berusaha menjelaskan mengapa ngidam terjadi pada ibu hamil:
Perubahan Hormon
Selama kehamilan, terjadi peningkatan hormon seperti estrogen dan progesteron. Hormon-hormon ini dapat memengaruhi selera dan kepekaan terhadap bau, sehingga membuat ibu hamil lebih menginginkan makanan tertentu. Hormon leptin (yang mengatur rasa kenyang) dan ghrelin (yang memicu rasa lapar) juga bisa berubah, berpotensi meningkatkan keinginan akan makanan tertentu.
Kebutuhan Nutrisi
Ngidam bisa jadi adalah cara tubuh untuk memberi sinyal bahwa tubuh membutuhkan nutrisi tertentu. Misalnya, ngidam akan daging merah atau makanan kaya zat besi bisa menandakan tubuh membutuhkan lebih banyak zat besi untuk mendukung pertumbuhan janin. Namun, teori ini tidak sepenuhnya menjelaskan semua ngidam, terutama jika ngidamnya adalah makanan yang kurang bergizi.
Pengaruh Emosional dan Psikologis
Emosi dan stres sering kali meningkat selama kehamilan, sehingga makanan bisa menjadi bentuk pelampiasan atau kenyamanan bagi ibu hamil. Ngidam tertentu dapat memberikan perasaan puas atau bahagia, yang membantu ibu mengatasi tekanan emosional selama kehamilan. Faktor budaya dan lingkungan sekitar juga mempengaruhi keinginan akan makanan atau kegiatan tertentu.
Perubahan pada Selera dan Indera Penciuman
Ibu hamil cenderung mengalami perubahan persepsi terhadap rasa dan bau, membuat mereka menginginkan makanan dengan rasa atau aroma tertentu. Peningkatan sensitivitas terhadap bau atau rasa makanan bisa menyebabkan keinginan untuk makanan yang pada kondisi biasa tidak terlalu menarik.
Ngidam dan Pengaruhnya Terhadap Bayi
Meski ngidam sering kali dianggap penting untuk dipenuhi, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa ngidam tidak memiliki dampak langsung terhadap bayi. Bayi tidak terpengaruh secara langsung oleh apakah ngidam seorang ibu terpenuhi atau tidak. Misalnya, tanda lahir atau karakteristik fisik bayi, hal ini tidak berhubungan dengan ngidam ibu, melainkan lebih dipengaruhi oleh faktor genetik dan perkembangan sel. Walaupun beberapa kasus hal ini secara kebetulan terjadi pada ibu yang tidak dipenuhi ngidamnya, tentu saja semua itu hanya kebetulan belaka.
Ngidam adalah fenomena yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dikenal di berbagai negara dengan kepercayaan dan makna yang berbeda-beda. Dari India hingga Italia, banyak masyarakat percaya bahwa memenuhi ngidam selama kehamilan dapat membawa kebaikan bagi ibu dan bayi. Walaupun belum ada penjelasan ilmiah yang pasti tentang semua aspek ngidam, beberapa teori tentang hormon, kebutuhan nutrisi, dan faktor psikologis dapat membantu kita memahami fenomena ini.
Secara keseluruhan, ngidam adalah pengalaman umum dalam kehamilan yang bisa berbeda-beda di setiap budaya dan individu. Ngidam dianggap wajar selama tidak mengarah ke pola makan yang berbahaya bagi ibu atau janin, dan justru memenuhinya dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. dan dari sisi ilmiah, ngidam tidak mempengaruhi perkembangan atau karakteristik bayi secara langsung ya.







Leave A Comment