Setelah menjalani kehidupan pernikahan setiap pasangan akan menghadapi fase menunggu buah hati untuk hadir di kehidupan mereka. Menunggu kedatangan buah hati adalah perjalanan yang penuh harapan dan persiapan. Kesuburan bukan hanya soal faktor biologis, tetapi juga mencakup kesiapan emosional dan mental untuk menyambut kehidupan baru.  Kesuburan adalah perjalanan yang unik bagi setiap orang, dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari genetik hingga gaya hidup. Meskipun beberapa orang mungkin mengalami kemudahan dalam meraih kehamilan, yang lain menghadapi tantangan yang berbeda.

Namun, ada kepercayaan yang beredar bahwa anak pancingan atau mengadopsi anak bisa membantu pasangan yang menunggu momongan agar lebih cepat hamil. Apakah benar demikian? Mari kita bedah lebih dalam fakta dan fiksi di balik kepercayaan ini !

Seberapa sering kehamilan terjadi setelah pasangan mengadopsi anak?

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Infertility Association Resolve, persentase tingkat kehamilan setelah mengadopsi dan tidak mengadopsi anak sebenarnya sama. Banyak ahli berpendapat bahwa kehamilan yang terjadi setelah adopsi hanya kebetulan dan termasuk dalam persentase kehamilan spontan. Tergantung diagnosis infertilitas seseorang yaitu kondisi ketika pasangan tidak bisa hamil setelah berhubungan intim. Jadi, tidak ada hubungan langsung antara adopsi dan kehamilan. Hal ini menegaskan bahwa mitos tentang “anak pancingan” adalah kepercayaan yang keliru.

Faktor tertundanya pasangan suami istri untuk memiliki momongan sangat banyak, bahkan tak cuma tentang kesuburan saja, namun stres juga bisa memicu hal tersebut. Sebagian besar kehamilan adalah soal waktu Tuhan, kapan memberikan anugerahnya kepada pasangan suami istri. Bila setelah memiliki anak pancingan Ibu dinyatakan hamil, maka ini adalah kebetulan yang Tuhan berikan dan bukan merupakan sebuah pedoman pasti. Berharap memiliki momongan karena sudah terbiasa merawat anak pancingan atau adopsi memang tidak salah. Namun, akan menjadi hal yang keliru bila mitos ini berubah menjadi sebuah kepercayaan yang diunggulkan.

Jangan Adopsi anak agar bisa hamil

Mengadopsi bayi bisa menjadi salah satu cara untuk memiliki momongan, namun tidak berkaitan dengan meningkatkan kesuburan. Seharusnya pasangan mengadopsi karena mereka ingin menjadi orangtua bagi seorang anak, bukan untuk memancing kehamilan.

Banyak orang yang mengatakan, “Kamu pasti akan hamil setelah mengadopsi bayi” kepada pasangan yang sudah lama menantikan buah hati. Mereka sering menyarankan agar pasangan beralih ke upaya adopsi anak sebagai “pancingan.” Sebenarnya, orang-orang  tersebut tidak sepenuhnya keliru, itulah cara mereka bersikap peduli dan memupuk harapan baik pada Ibu. Seseorang  mungkin menganggap bahwa mengadopsi anak bisa memicu kehamilan karena beberapa alasan sosial dan psikologis.

Adopsi anak bisa meningkatkan ikatan emosional antara pasangan

Mengadopsi anak sering kali membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Beberapa pasangan merasa lebih siap atau terdorong untuk memiliki anak biologis setelah merasakan pengalaman menjadi orang tua melalui adopsi. Dalam beberapa budaya, ada pandangan bahwa setelah mengadopsi anak, pasangan menjadi “lebih lengkap” atau “lebih siap” untuk kehamilan, sehingga kehamilan mungkin lebih dianggap sebagai langkah selanjutnya. Adopsi bisa membawa harapan baru bagi pasangan yang sebelumnya menghadapi kesulitan untuk memiliki anak. Harapan ini bisa menyebabkan keinginan untuk mencoba kehamilan setelah adopsi.  Stres yang berkurang dapat berdampak positif pada kesuburan.

Memahami hubungan antara adopsi anak dan kesuburan

Meskipun ada keyakinan bahwa mengadopsi anak dapat meningkatkan peluang untuk hamil, data tetap menunjukkan bahwa kehamilan setelah adopsi tidak lebih tinggi dibandingkan pasangan yang tidak mengadopsi anak. Kehamilan tetap bergantung pada faktor-faktor kesehatan dan kondisi tubuh. Saat mencoba untuk hamil, disarankan untuk mengonsumsi ikan yang rendah merkuri dan membatasi asupan kafein. Perencanaan kehamilan bukan hanya tentang kesehatan wanita, tetapi juga pria. Mengonsumsi makanan sehat berperan penting dalam mempersiapkan tubuh, termasuk dalam mendukung pria untuk memproduksi sperma yang sehat. Adopsi seharusnya dilakukan karena keinginan untuk merawat dan mencintai anak, bukan sebagai cara untuk “memancing” kehamilan. Mengadopsi bisa membawa kebahagiaan dan harapan baru, keputusan ini tidak boleh didasarkan pada mitos bahwa adopsi akan memancing kehamilan. Yang terpenting, setiap pasangan harus saling mendukung dan menjalani proses ini dengan hati terbuka.